Kembali Fitri

Volume 3: Kembali Fitri

Cerita Kita Vol. 3: Kembali Fitri

The Pretty Songbird

Cerita Kita tanpa ragu-ragu memilih sosok Nadin Amizah atau sang @cakecaine sebagai cover kita di Volume ini. Sosok mungil dengan kepribadian besar, dan suara merdu ini adalah salah satu perempuan muda yang sukses mencuri perhatian banyak orang. Dari para Instagramers hingga musisi sekaliber Dipha Barus yang berhasil mengajak dia untuk berkolaborasi di single All Good. Dengan talenta bernyanyi dan persona yang memukau, semua orang bisa dengan otomatis menjadi fansnya. Yes, she is that magnetic

nadin3 ccopy

Cerita Kita pun mengajak fotografer favorit kita Stephany Azali, untuk berbicara hati ke hati dengan biduan yang baru saja merayakan ulang tahunnya ini. Stephany dan Nadin adalah dua perempuan muda yang memang sudah akrab di kehidupan nyata, sama-sama bertalenta dan memiliki karier cemerlang di industri kreatif. Simak obrolan mereka di bawah ini.

  1. Stephany: Gimana rasanya udah selesai sekolah?

Nadin: Gabut banget parah. Tapi seneng juga karena gue bisa ngerjain project gue yang ketunda dan udah gaperlu belajar lagi tau, Pi (panggilann akrab Stephany). Meskipun nanti lanjut lagi belajar dikuliah.

  1. Stephany: Apa kegiatannya untuk mengisi liburan panjang?

Nadin: Gue bakal ketemu beberapa orang untuk song writing, 2-3 orangan. Terus ya, kayak gini foto-foto bareng lo atau bikin video. Gue lagi daftar SBM sekarang. Pengumumannya 3 Juli.

  1. Stephany: Ahkirnya pilih jurusan apa?

Nadin: Sastra Inggris sama Ilmu Filsafat. Gue apply di dua universitas. Yang satu UI, satu lagi UNJ.

  1. Stephany: Apa alasannya?

Nadin: Kalau Sastra Inggris karena gue suka kata-kata, literasi, dan lain-lain. Kalau Ilmu Filsafat itu menurut gue ga jauh-jauh dari Sastra tapi dia lebih dalam aja. Filsafat itu kan ibu ilmu dari segala ilmu. Tapi gue juga mau kuliah yang seminimal itu effortnya. Biar gue juga bisa fokus nyanyi juga sih.

  1. Stephany: Gimana hari-hari pertama puasanya?

Nadin: Lancar, Alhamdulilah. Gue kemarin cobain cardio, cuy. Sore-sore. Pas mandi, gue pengen pingsan demi apapun. Kayak black out gitu. Sok-sokan gitu hahaha.

  1. Stephany: Apa rutinitas ngabuburitnya?

Nadin: Karena ngabuburit sangat dekat waktunya dengan sunset ya, jadi mungkin gue foto-foto like I always do. Gue pengen Instagram gue aktif lagi.

  1. Stephany: Ada plan apa aja buat bukber kedepan ?

Nadin: Ayok sama elu, ayok. Hahaha. Nanti ada plan bukber bareng temen-temen SD, SMP ada grup sendiri, trus nanti SMA dari sekolah, dari kelas, dan dari grup. Jadi banyak sih..

  1. Stephany: Keluarga gimana kabarnya?

Nadin: Baik, Alhamdulillah. Kak Renny abis lahiran nih. He’s so fluffy, Ya Allah!.

  1. Stephany: Ceritain dong kerja bareng momager seperti bunda (panggilan akrab ibunya Nadin) gitu. Apa pros and cons-nya?

Nadin: Enaknya itu dia selalu ada. Jadi, kita ngga perlu repot-repot ketemuan meeting segala macem. Gue tinggal kekamar dia doang, terus kita meeting. Engga enaknya tuh, kadang it gets too personal gitu. Di saat gue bilang engga, tapi dia masukin ke hati. Jadi seakan-akan gue engga nurutin perintah dia. Cuman kalau ada keputusan yang ditangan gue sepeuhnya pun dia juga respect. Ada kalanya juga kita beda pendapat tapi kesannya gue yang terlalu songong, balik lagi kita juga diikat karena pekerjaan.

  1. Stephany: Bentar lagi ulang tahun nih kayaknya

Nadin: Iya! Tanggal 28 mei.

nadin10 ccopy

  1. Stephany: Plan buat spend 18th birthday?

Nadin: Paling buka bareng sih bareng temen-temen SMA. Ngajak lo-lo pada, ngajak Julian (Jacs) juga.

  1. Stephany: Thoughts on growing up?

Nadin: Lucunya adalah, pikiran gue terus berkembang. Tapi, tingkah laku gue mentok banget di bocah-bocahnya ini. Gue tuh pengen jadi perempuan yang so cool gitu keliatan dari mimik-mimikya. Cuman, gue ga bisa kayak gitu. My attitude, my body language juga berubah. But, on growing up it self sih, karena dari dulu gue dipaksa untuk growing up akibat kerja dari umur 16, ya. Itu udah mulai terbiasa aja. Like, life is sh*t, man. Tapi, yaudah.

  1. Stephany: Terus apa yang lo pelajari di tahun kemaren?

Nadin: Di umur ke 17 ini kalau gue merasa down. Gue akan bilang ke diri gue sendiri kalau if I don’t thoughen myself up, gue baru 17 tahun dan dunia masih panjang. Pasti akan it gets worst. Kalau gue engga merasa kuat sekarang bisa mati ditengah jalan, hahaha. There’s a lot of things happened tahun kemaren karena gue hectic parah. Kerjaan maupun sekolah. All Good lagi naik, tapi gue harus ujian juga. We grew up. We changed friends, feelngs changed, and everything around us keeps changing. Jadi, engga ada yang konkrit and I have to cope with that.

  1. Stephany: Anyway, how do you cope with haters in social media?

Nadin: You know how much I’m getting hated, right?. It’s like gue selalu berfikiran yang terbaik terhadap orang lain. Ketika orang berfikiran negative towards me, gue risih. Apalagi gue orangnya sensitif banget ya. Belakangan ini orang lebih prah nge-hatenya. Dari yang cuman ngomongin soal cara nyanyi gue, sekarang merambat jadi kayak tentang fisik dan personal matters. The only way I cope about it adalah to get around it. Kalau mereka berintensi untuk nyakitin gue, gue harus lebih happy gitu loh. Because they like to see me in pain and I have to let them see that I’m not in pain.

  1. Stephany: What’s its like to be a hopeless romantic on social media? Like, apa sih latar belakang seorang Nadin Amizah on social media

Nadin: Cuman ada dua kemungkinan. Satu, orang suka atau dua, orang ngerasa lo adalah fak*r banget. It’s either orang merasa gue beneran merasakan atau orang mikir gue pengen jadi orang yang indie-indie yang suka nulis kata-kata keren gitu. But, I only write what I feel.

  1. Stephany: Buat siapa aja sih tulisannya ?

Nadin: Tergantung. Ada beberapa belakangan ini yang gue tulis dan gue ngepost sama foto orangnya langsung gitu. Ada juga beberapa yang emang gue tulis dan aku post tanpa ada penjelasan itu biasanya buat orang yang tersayang aja. No name, ya. Hahaha. Belum tentu juga buat orang tertentu juga kadang buat semuanya. Kadang buat orang yang random.

  1. Stephany: Proses buat tulisan itu sendiri bagaimana sih?

Nadin: Kalau memang merasa pengen nulis, gue segampang itu nulisnya. Kalau misalnya ga pengen nulis tapi pengen nulis caption, itu susah. Writer’s block sih. It’s all out of nowhere.

  1. Stephany: Kasih tips dong bikin social media feeds yang kayak lo gitu.

Nadin: Pattern warna gue itu engga cuman satu. Gue memang pake filter yang khusus tapi bukan berarti pakai satu terus terusan. Tapi, emang gue lebih ngandelin vibe-nya daripada warnanya. Kalau misalnya vibe-nya ga cocok, itu paling gue kasih black and white. Kalau misalnya warna sendiri kan gue memang warm. Tapi, kalau lo perhatikan beberapa post emang ga cocok warnanya, tapi juga dia cocok disitu karena vibe-nya warm. It’s more than just colors, but feelings as well.

  1. Stephany: Kalau proses bikin lagu gimana?

Nadin: Sama kayak gue nulis frasa-frasa dan puisi sih. Tergantung mood. Karena gue engga bisa main instrumen, jadi gue minta tolong om gue. Jadi kita back and forth. Dia ngirim iringan, biasanya gue langsung nulis dari iringan dia. Kalau pun ada yang ga cocok, dia ubah dari and so on.

  1. Stephany: Berarti inspirasinya pun sama kayak lo nulis puisi dan frasa?

Nadin: Sama. Feel-nya semua sama.

  1. Stephany: Kira-kira lagunya kayak apa sih ?

Nadin: Biasanya tuh gue kalo nulis paling kenceng tuh kalau lagi patah hati. Jadi lagu-lagu gue masih tetep tentang patah hati sih. Tapi gue pengennya semakin gue berkembang, bertambah umur jadi makin banyak yang gue liat dan makin banyak juga yang gue tulis juga. Jadi engga cuman tentang cinta. There’s a lot of definition about love dan ga cuman dari patah hati

  1. Stephany: Genrenya apa?

Nadin: Genrenya, folk, I guess.

  1. Stephany: Go indie or on major label?

Nadin: Kayaknya sih gue bakal sign sama satu label dulu untuk tau cara main mereka seperti apa dan kontraknya gue tekan dari yang 3 tahun jadi 2 tahun. Semoga dari 2 tahun itu udah ada yang bisa terjalankan, selesai, keluar, kalaupun emang bagus dan sesuai ekspektasi ya gue lanjut. Kalau enggapun minimal gue udah punya modal, udah mengerti cara mainnya gimana. Soalnya kalau indie juga susah.

  1. Stephany: Kalau label meminta lo untuk go mainstream gimana?

Nadin: Dengan gue memilih label itupun gue picky banget, lama banget. Gue udah dikontak label dari 2016-an. Tapi, kita terus lihat, ini bukan pasar kita. Kita bukan mau disini atau disini. Jadi banyak yang ditolak. Bukan jual mahal, tapi gue nge-keep pasar gue gitu loh. I want to be a perfectionist when it comes to my music. Jadi gue keep playing by my own rules. Kalau yang pengen gue sign ini kayaknya mereka fleksibel. Mereka engga ngasih materi, justru mereka akan minta materi dari aku.

  1. Stephany: Ada rencana bikin album atau EP soon?

Nadin: Ada. EP deh kayaknya. It takes a lot of time to make an album

nadin7 ccopy

 

 


Nilai terbanyak:

      Silakan login untuk berkomentar

      This Volume Article